Rabu, 05 November 2008

Paralaks Spektroskopik

Dalam pengamatan, terang
suatu bintang diukur dalam
satuan magnitudo. Dari
pengamatan magnitudo semu
bintang serta kelas spektrum
bintang juga bisa diketahui.
Dengan mendefinisikan
magnitudo mutlak bintang
sebagai magnitudo bintang yang
diandaikan diamati pada jarak
yang sama, yaitu 10 parsec.
Untuk bintang-bintang jauh,
dengan membandingkan kelas
spektrum bintang dari hasil
pengamatan dengan bintang
yang kelas spektrumnya sama
dan sudah diketahui jaraknya,
magnitudo mutlak bintang bisa
diketahui dari hubungan pada
temperatur (kelas spektrum
dengan M). Selisih magnitudo
semu dan magnitudo mutlak
akan memberikan harga jarak
bintang dari pengamat setelah
dikoreksi terhadap serapan
antar bintang :

clip_image006[1]

Kondisi tanpa adanya debu akan
mempermudah penentuan
magnitudo absolut bintang.
Untuk bintang dekat, efek debu
kecil dan bisa diabaikan.

Paralak trigonometri

Penentuan jarak bintang baru
berhasil dilakukan pada abad ke-
19 dengan menggunakan
metode paralaks trigonometri.
Akibat dari gerak edar bumi,
bintang dekat akan terlihat
bergeser terhadap bintang
jauh. Dan bintang tersebut
seolah bergerak menempuh
lintasan ellips relatif terhadap
latar belakang bintang yang
jauh. Gerak ellips tersebut
merupakan pencerminan gerak
bumi. Sudut yang dibentuk oleh
bumi dan matahari ke bintang
inilah yang diebut paralaks
bintang. Semakin jauh letak
bintang, lintasan ellipsnya makin
kecil, paralaksnya juga makin
kecil.

Dengan mengetahui jarak bumi -
matahari, serta paralaks
bintang, jarak bintang bisa
diketahui dari hubungan :

1AU/d= tan p~p(dalam radian)

Metode paralaks trigonometri
hanya bisa digunakan untuk
mendapatkan jarak bintang-
bintang terdekat (untuk jarak
ratusan parsec).